17an di Merbabu


SAYA BUTUH PIKNIK !!!

Sangat sering kalimat itu terlontar dari mulut saya. Saya tidak bohong dan tidak mengada-ada. Terus terang saya memang kurang piknik. Bagaimana tidak? Seharian dari pagi sampai sore saya mesti menghabiskan waktu di tempat kerja. Mengerjakan ini itu, bahkan kadang lembur sampai malam. Tingkat stres meninggi, jerawat muncul dimana-mana, mendadak jadi sensitif dan mudah marah. Tak jarang dalam kondisi seperti itu membuat orang-orang di sekitar saya jadi korban. Mereka bicara baik-baik, tapi saya sahut dengan ketus. Ya, begitulah salah satu ciri-ciri orang yang kurang piknik. Menakutkan dan amat berbahaya.

Selain karena urusan pekerjaan, suasana hati yang kadang memburuk karena urusan cinta (ciiieee... ngomongin cinta) juga jadi salah satu alasan yang mendorong saya ingin sekali keluar dari rutinitas harian. Setidaknya saya ingin menyegarkan pikiran, menata ulang hati yang berantakan gara-gara cinta (tak terbalas) dan sekelumit masalah yang kadang membuat saya frustasi berat.

Di tengah kondisi seperti itu, beruntung ada salah satu teman saya mengajak trip ke Gunung Merbabu. Sebut saja dia Arab, orang yang sangat terobsesi untuk menjadi sosok seorang Bang Zafran. Wah, tawaran seperti ini sangat pantang ditolak. Karena kesempatan tidak datang dua kali. Pelaksanaan yang bertepatan dengan Peringatah HUT RI ke-70 sempat membuat saya bingung. Pasalnya pada tanggal-tanggal itu saya mesti ikut kegiatan upacara bendera. Tapi apa salahnya ikut upacara di puncak gunung. Sensasinya pasti beda.

Setelah mengurus izin ini itu supaya bisa ikut trip ke Gunung Merbabu, akhirnya saya fix untuk bergabung dalam trip tersebut. Tim kami berjumlah 8 orang, diantaranya Mas Samsul, Kang Apeh, Zulfikar, Bang Cuex, Bang Arab, Saya, Mba Dyas dan suaminya, sebut saja Om Jet Cell.

Sore hari, sekitar pukul 16.00 waktu Debong, kami berkumpul di rumah Bang Jono. Karena sudah berpengalaman dalam urusan pendakian gunung, kami pun meminta supaya diberi wejangan agar dapat mematangkan persiapan sebelum pendakian. Kami juga meminta pada Bang Jono untuk membantu kami menata kembali barang-barang bawaan ke dalam tas agar lebih nyaman ketika digendong. Kami berangkat dari Tegal pada tanggal 15 Agustus 2015 pukul 19.00. Ini adalah pertama kali bagi saya untuk berkendara sepeda motor jarak jauh. Biasanya berkendara motor paling jauh hanya Tegal-Pemalang. Tapi sekarang harus merasakan sensasinya duduk di atas jok sepeda motor dari Tegal samapi Magelang. Pasti luar biasa sekali (pegelnya).

Sebelum berangkat, kami berdo'a bersama demi kelancaran perjalanan kali ini. Semoga juga setelah perjalanan ini suasana hati saya bisa membaik dan penyakit kurang piknik yang saya idap bisa sembuh. Aamiin...

Perjalanan dimulai...

Jalan beraspal pun kerap berlubang. Itu adalah istilah yang saya buat sendiri. Sedangkan yang terjadi adalah 'motor yang sudah diservis pun kerap mogok di jalan'. Itulah yang terjadi ketika kami melintasi jalur pantura di wilayah Comal. Motor yang dikendarai Bang Samsul dan Kang Apeh tiba-tiba mogok.

Motor mogok di jalur pantura
Kami coba cari bengkel kesana kemari. Begitu ketemu bengkel, katanya si motor harus dibawa ke dealer. Sambil menunggu balai bantuan (ciiieee... balai bantuan) kami duduk duduk dulu di lampu merah comal. Tepatnya di sebelah pos polisi. Kita coba lobi sama Pak Polisi yang berjaga, siapa tahu bisa dapat pinjaman motor (ini sebenernya ide gila). Dan tentu saja Pak Polisi menolaknya dengan mentah-mentah. Tapi mungkin karena kasihan, akhirnya seorang polisi tua datang menghampiri kita dan ngasih sekotak getuk (tapi kenapa cuma ngasih getuk? Ngga sekalian minjemin motornya, Pak? Hihihihi).

Rehat sejenak sambil bingung mikirin nasib
Akhirnya kami memutuskan untuk putar arah dan menginap di salah satu komplek pondok pesantren yang jaraknya lumayan jauh. Tapi di situ kami bisa beristirahat untuk persiapan melanjutkan perjalanan esok hari.

Alhamdulillah, bisa istirahat di tempat yang nyaman

Pas lagi asik foto, muncullah penampakan (In frame : Japran KW 86)
Pukul 07.00 waktu Comal kami langsung menuju ke dealer terdekat. Sembari menunggu motor selesai diservis, kami bisa duduk-duduk dulu. Nonton acara TV di minggu pagi dan menikmati minuman panas. Buat waktu menunggu jadi terasa menyenangkan. 

Nungguin motor yang lagi diservis
Sambil nunggu, mari ngopi (In frame : Bang Samsul & Bang Cuex)
Alhamdulillah. Akhirnya si motor sudah keluar dari kamar rawat. Kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan siang. Kendaraan berlalu-lalang, padat merayap. Bahkan di beberapa titik terjadi macet. Tapi rupanya Zul begitu mahir selip kanan kiri di antara kendaraan-kendaraan besar. Benar-benar ekstrem. Tapi, rupanya motor mogok bukanlah satu-satunya masalah yang membuat perjalanan kali ini jadi penuh sensasi. Kami juga mesti berhadapan dengan operasi lalu lintas. Sebagai pengendara sepeda motor yang normal, sudah pasti kami langsung dag-dig-dug. Apalagi saya yang benar-benar takut sama operasi lalu lintas. Sedikit cerita saja, kalau saya sangat sering mimpi ditilang polisi. Dan satu-satunya alasan yang bikin saya takut berkendara motor jauh-jauh adalah karena saya belum punya SIM. Sayang kan kalau uang jajan lenyap karena ditilang.

Ada operasi lalu lintas !!!
STOP !!! Cekl kelengkapan surat kendaraan (In frame : Om Jet Cell & Zul)
Selagi menunggu urusan dengan Pak Polisi selesai, saya dan Mba Dyas menyempatkan diri untuk berbelanja sayuran yang dijual di pinggir jalan tersebut. Di dalam kepala langsung terbayang betapa enaknya makan sayur sop di atas gunung. Sedaaaapp...

Saya tidak tahu persis apa saja yang membuat dua teman saya terkenal tilang. Tapi setelah urusan itu selesai, kami melanjutkan perjalanan mencari gerbang Desa Wekas, jalur pendakian yang akan kami lewati. Kebetulan di antara delapan orang memang belum pernah ada yang melakukan pendakian lewat jalur ini, jadi harus tanya-tanya juga setiap kali ada orang lewat.

Beneran ini jalannya ???
Mending tanya aja deh. Daripada nyasar (In frame : Bang Samsul & ibu-ibu)

Beberapa saat kemudian kami melihat sebuah gapura bertuliskan Base camp Wekas. Ini dia. Artinya kami sudah sampai. kami masih harus menempuh perjalanan hingga ke basecamp yang jaraknya sekitar 3 km. Setelah melalui deretan hutan pinus, pukul 14.00 kami tiba di basecamp. Istirahat, makan siang kemudian re-packing untuk persiapan pendakian sore harinya.



Gapura Basecamp Wekas
Gerbang jalur pendakian Wekas
Jalan menuju basecamp
Tiba di basecamp pendakian Gunung Merbabu
Jangan lupa makan siang, sob !
Pendakian sore hari membuat kami bisa menikmati senja yang indah. Dan begitu malam tiba, terlihat pula langit cerah berbintang yang membuat saya enggan menundukkan kepala ketika sedang beristirahat di tengah-tengah perjalanan.

Selama perjalanan, tim kami tidak berjalan sebagai satu pasukan. Bang Samsul dan Kang Apeh sudah berada di posisi paling depan untuk bisa memasang tenda di pos 2. Kemudian di belakangnya, saya bersama Bang Arab. Dilanjutkan dengan Mba Dyas bersama Om Jet Cell yang dibantu Zul. Dan ada Bang Cuex yang mengkondisikan tim dari belakang.


Mari mulai melangkah
Indahnya langit senja kala itu
Pukul 21.00 kami tiba di pos 2. Setelah mendirikan tenda, acara masak memasak pun dimulai. Tempe goreng tepung dan mie instan sudah cukup untuk menemani nasi panas yang baru ditanak. Dan yang tidak boleh ketinggalan adalah kopi. Terus terang saya sedih karena tidak berani minum kopi. Perut saya memang sulit diajak berkompromi untuk jenis minuman yang satu itu.

Karena pagi buta nanti kami harus melanjutkan perjalanan ke puncak, akhirnya kami memutuskan untuk bergegas tidur. Awalnya saya sulit tidur karena udara yang sangat dingin. Sekujur tubuh seperti hampir mati rasa. Bahkan saya sampai harus memakai dua jaket sekaligus. Masuk ke dalam sleeping bag dan berusaha membuat badan senyaman mungkin di suhu udara yang ekstrim.

Mari makrab biar tambah akrab
Tanggal 17 Agustus 2015 pukul 03.00 dini hari kami bangun. Sebelum summit attack, kami harus mempersiapkan kondisi tubuh yang prima. Jangan lupa untuk makan (yang mungkin lebih mirip seperti sahur). Setelah semua siap, kami bergegas untuk melanjutkan pendakian ke puncak. Tas-tas besar ditinggal di tendah, kami cukup membawa perbekalan yang sekiranya diperlukan untuk sampai di puncak saja.

Persiapan summit attact
Dari langit yang gelap kemudian berubah bersemu jingga. Rupanya tak terasa kami telah berjalan selama beberapa jam sampai akhirnya melihat matahari yang menyingkap kabut. Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat gumpalan awan yang luar biasa indah. Gunung Sindoro - Sumbing dan Prau pun nampak dari kejauhan.

Pemandangan ketika fajar tiba. Saya sampe hampir nangis liat beginian (lebai)
Pantang melewatkan foto siluet
Ciiieee... pasangan merbabu yang romantis abiss  ^_^
Karena belum punya pasangan (ekheemm) foto sendirian aja deh
Ketika hari mulai siang
Ini dia apa yang saya butuhkan. Melihat pemandangan yang tidak bisa saya jumpai di mall, apalagi di tempat kerja. Saya bisa menghirup udara segar yang tak tercemar. Tak ada suara gaduh lalu lalang kendaraan. Dan yang pasti adalah tidak ada tumpukan pekerjaan yang sering menimbulkan pusing kepala.

Pemandangan indah seperti itu rupanya belum seberapa. Kami masih harus melewati jalanan yang lebih terjal lagi. Menanjak, berbatu, berdebu dan seringnya membuat kaki tergelincir. Beruntung deh ada kawan yang siap membantu. Hehehehe...

Medannya ngga main-main deh...
Apalagi ketika kami tiba di tempat yang lebih tinggi, angin bertiup sangat kencang. Beneran, ngga bohong. Seger sih, tapi bikin debu terbang kemana-mana. Mengingat kacamata hitam yang mesti pesiun dini setelah tragedi di Gunung Prau, alhasil si mata jadi korban - kemasukan debu. Biarpun ditawari pake kacamata punya Bang Arab, tapi saya tolak. Kenapa? Karena melihat pemandangan hijau pake kacamata hitam pasti jadi kurang WAH.

Kami lanjutkan... jalan... jalan... jalan... dan akhirnya menemukan spot yang bagus untuk beristirahat. Kami duduk-duduk sejenak dan (jangan lupa) berfoto-foto. Bahkan, saking menikmatinya, Saya bersama Mba Dyas, Bang Arab dan Om Jet Cell sampai tertidur ketika sedang beristirahat sembari berbaring di tepian jalur pendakian.

Entah bagaimana, kami sampai tertidur begini
Pengin foto model begini, ngga kesampean (In frame : Kang Apeh)
Zul yang berhasil mencapai cita-citanya (membalikkan papan arah puncak)
Pendaki Laka-laka di puncak Merbabu (In frame : Bang Samsul)
Sebut saja dia Bang Arab yang terobsesi jadi Bang Zafran (In Frame : Bang Rohman)

Ketika sedang berbaring di tepian jalur pendakian, ketika mata melihat langit biru cerah tanpa awan, entah mengapa jadi ada obrolan panjang di dalam benak sendiri. Seperti biasa. Dialog-dialog antara perasaan dan logika. Banyak hal yang terlintas di dalam pikiran. Mendadak seperti muncul benang-benang kusut yang musti diluruskan. Iya, inilah saatnya. Seperti tujuan yang membawa saya ke tempat ini. Saatnya menyegarkan pikiran, menata ulang hati yang berantakan. Melepas beban, biar saat pulang semua terasa lebih ringan.

Dia seperti langit. Ada, nampak jelas, indah, namun tak tergapai
Jadi, lepas saja semua beban di sini

Sebelum melangkah turun, saya telah membulatkan tekad. Sepulang dari tempat ini, saya harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Ya, setidaknya saya harus menjadi pribadi dengan hati yang telah tertata kembali. Dengan pikiran yang benar-benar telah dinetralkan dari segala macam beban. Saya ingin bisa merelakan apa yang harus dilepaskan. Sepulang dari perjalanan ini, saya berjanji untuk tidak galau lagi. (semoga bisa, aamiin).



Tak lama setelah menikmati semua keindahan di atas sana. Setelah merenungkan banyak hal di depan hamparan pemandangan yang luar biasa menakjubkan, saya telah siap untuk kembali pulang. Saya telah siap untuk kembali bergelut dengan rutinitas harian saya. Iya, penyakit 'kurang piknik' yang menjangkit saya nampaknya sudah terobati.

Dan ketika turun menuju ke pos 2, di jalan kami bertemu dengan seorang gadis cilik berusia tiga tahun. Namanya Edelweis. Terus terang dalam hati saya berdecak kagum. Melihat dia bersama ayah dan ibunya. Duhhh... bikin ngiri asli ! Pengin dong kelak bisa piknik keluarga kaya gitu. Aamiin aamiin aamiin...

Setelah foto-foto dengan Dede Edelweis, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Sampai di pos 2 kami langsung menyiapkan makan siang. Tapi kami juga harus mengantri air. Antriannya lumayan panjang, ngga kalah dengan antrian di kasir supermarket. Setelah mencuci nesting dan mengambil air, saatnya memasak untuk makan siang.  Menu kali ini ada Sop di Atas Awan dan Sarden Kecap Pedas. Ini benar-benar makanan istimewa. Luar biasa enaknya disantap bersama nasi yang panas.

Mari memasak
Dan harap sabar menunggu
Ini dia penampakan Bang Cuex - Sahabat Kotak
Makan siang sudah siapppp! Santaaappp !!!
Bersamaan dengan turunnya kabut di siang hari, kami bergegas menyantap makanan tersebut sebelum dingin. Luar biasa sekali. Ini adalah makanan paling enak yang pernah saya makan. Bahkan sayur sop di rumah pun tidak pernah seenak ini.


Kabut mulai turun di pos 2
Selesai dengan makan siang, kami berkemas. Membongkar tenda, menggulung matras dan packing kembali. Kami tiba kembali di basecamp pada sore hari. Sebelum melakukan perjalanan pulang, kami berdo'a supaya diberi kelancaran hingga tiba di rumah.

Setelah berkemas, timsiap turun ke bawah
Perjalanan kembali ke basecamp pun tak kalah seru. Bahkan bisa dibilang lebih ekstrem. Kondisi tanah yang benar-benar kering membuat medan makin licin. Saya pun jatuh berkali-kali. Bahkan sampai kaki hampir tidak bisa untuk berjalan. Alhasil harus berjalan dengan menyeret kaki kanan saya yang mulai nyeri di bagian sana sini.

Apa yang Anda pikirkan ???
Di jalan, sebelum tiba di pos 1 saya mendapati monyet-monyet yang bergelantungan di atas pohon. Ada 4 monyet yang saya lihat. Dan ukurannya cukup besar juga. Sebenarnya ingin membawa salah satu monyet itu ke rumah (jangan ditiru). Tapi nanti mau dibawa pake apa? Mau diboncengin dimana? Kasihan juga kalau keluarganya nanti nyariin. Jadi saya mesti merelakan monyet-monyet menggemaskan itu tetap di habitatnya. Janga diri baik-baik ya, Nyet... Mudah mudahan nanti kita bisa berjumpa lagi.

Selamat tinggal Pos 1. Sampai jumpa lagi...
Kami menyempatkan diri istirahat di pos 1 sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke basecamp. Tiba di basecamp sekitar pukul 16.00. Langsung kami bersih diri, makan (lagi) dan istirahat. Berusaha untuk tidur barang sejenak untuk persiapan perjalanan malam nanti. Ba'da Maghrib kami langsung berkemas-kemas dan bersiap untuk kembali ke Tegal.

Okeh. Ternyata perjalanan malam dengan kondisi tubuh yang lelah membuat sedikit tak enak badan. Ngantuknya luar biasa. Saya berusaha untuk tetap terjaga, tapi akhirnya tidur juga selama perjalanan dari Magelang sampai Pemalang. Hanya terbangun beberapa saat ketika rehat di pom bensin atau di swalayan untuk minum kopi. Kemudian tertidur lagi.

Ngopi dulu gaes...

Aku sih mau tidur ajahh... Antuk !!!

Hah! Ini benar-benar perjalanan yang luar biasa. Biarpun badan pegel-pegel begitu turun dari motor, tapi insya allah tidak akan kapok. Bagaimana mau kapok kalau perjalanan semacam itu benar-benar menyenangkan. Dan yang lebih berarti lagi ada kebersamaan yang begitu erat. Beruntungnya memiliki kawan-kawan seperti kalian. Kalian luar biasa !!!

Explore Dieng Edisi 1st Anniversary Pendaki Laka-laka

Rasanya rindu melihat bentangan alam yang hijau nan asri. Ruang dalam paru-paru ini ingin menghela udara segar. Karenanya, aku ingin beranjak melangkahkan kaki. Mencari tempat di mana aku bisa mengobati kerinduan yang mengikat hati begitu erat.

Itu dia satu alasan yang membuat saya benar-benar ingin keluar dari ruangan dan melihat birunya langit, atau awan putih. Tidur di atas rumput hijau dan merasakan semilir angin. Saya hampir lupa bagaimana rasanya semua itu setelah sekian lama tertegun di bawah langit-langit kamar.

Kala itu saya mencoba mencari komunitas pecinta alam di sekitar wilayah Tegal. Dan akhirnya saya melihat salah satu grup bernama Pendaki Laka-laka di Facebook. Komunitas pendaki asal Tegal tersebut membuat saya cukup senang karena akhirnya bisa menemukan satu wadah yang mudah-mudahan bisa membantu saya mengobati kerinduan akan alam terbuka. Dan cukup takjub juga ketika akhirnya ada even open trip sebagai perayaan 1st Anniversary komunitas tersebut.

Penampakan Grup Pendaki Laka-laka

Saya langsung mengabari dua teman saya, Mba Dyas dan Mba Sary. Walaupun awalnya sempat merasa kecewa karena kuota sudah penuh, tapi ternyata pada hari terakhir pendaftaran panitia mengabarkan bahwa ada 3 kursi kosong yang masih bisa diisi. Kami bertiga positif ikut. Setelah urusan kontribusi selesai, kami langsung menyiapkan segala hal yang dibutuhkan nantinya.

Cukup lama tubuh tidak diajak bergerak karena lebih sering duduk di kursi. Kami pun memutuskan untuk berolahraga ringan setiap sore. Ternyata kemampuan fisik menurun drastis setelah sekian lama dimanjakan dengan duduk manis. Dan semua latihan tersebut jelas belum cukup untuk bekal pendakian nanti. Tapi karena hari sudah semakin dekat, kami hanya berusaha untuk bisa lebih menyiapkan kebutuhan lain seperti perlengkapan dan logistik.

Dan berkisah tentang tiga sepatu yang kembar, sebenarnya ini tidak disengaja. Kalau sepatu saya sendiri sudah dibeli sekitar dua bulan yang lalu sebelum hari pelaksanaan. Walaupun belum ada rencana untuk mendaki, tapi saya tahu kalau sepatu ini akan dibutuhkan suatu saat nanti. Sedangkan sepatu Mba Dyas sendiri dibeli beberapa hari sebelum pendakian. Dan ternyata sangat kebetulan sepatu yang dibeli sama dengan sepatu saya, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Bagaimana dengan sepatu milik Mba Sary? Sepatu milik Mba Sary jelas sama persis dengan sepatu milik saya. Karena kebetulan nomor sepatu saya agak kekecilan dan lebih pas dipakai Mba Sary, akhirnya Mba Sary membeli sepatu dengan ukuran kaki yang cocok untuk saya. Dan kami bertukar sepatu. Jadi tidak ada unsur kesengajaan sama sekali. Rumor tentang beli 2 dapat 3 hanyalah alasan semata karena kami tidak mungkin menceritakan panjang lebar tentang kebenarannya.

H-1 kami membuat surat izin bersama. Dan agar kegiatan pendakian lebih berkesan, kami bertiga sepakat untuk tidak menggunakan ponsel kecuali untuk dokumentasi. Esoknya kami langsung jalankan modus airplane walaupun sebenarnya kami berangkat dengan bus (bukan dengan pesawat) :D


Tanggal 23 Mei 2015. Berangkat dari basecamp Pendaki Laka-Laka yang beralamat di Jalan Kaligung, tepatnya di belakang BRI Alun-alun Tegal sekitar jam 8 dan tiba di Wonosobo jam 3 sore. Setelah ishoma dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum pendakian, tim pun dibagi menjadi beberapa kelompok (tepatnya berapa kelompok, saya agak lupa). Kebetulan Saya, Mba Sary dan Mba Dyas tergabung dalam kelompok 4 bersama Bang Jono, Mas Amin, Bang Abdul Hakim (Dulkim) dan Mas Farid.






Menempuh perjalanan sejak pukul 16.30. Bahkan ketika hari sudah petang kami masih berada di perjalanan. Sangat disayangkan karena kekuatan fisik yang menurun membuat saya harus merepotkan anggota tim yang lain. Terima kasih kepada Mas Amin dan Bang Dulkim yang rela gendongin tas saya. Buat Bang Jono, terima kasih atas semangat dan motivasinya. Dan acungan jempol untuk Mba Sary yang paling strong. Hahaha.


Pukul 21.00 kami mulai mendirikan tenda dan memasak beberapa makanan instan yang pembuatannya ternyata tidak instan. Ini adalah momen-momen paling seru. Bisa dibilang memang menjadi malam keakraban. Kami yang belum mengenal satu sama lain langsung menjadi seperti teman yang tumbuh bersama sejak lama. Ada banyak obrolan seru kala itu. Mulai dari obrolan yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Bahkan terus terang saya tidak rela ketika akhirnya malam semakin larut, udara dingin menyelimuti sekujur tubuh dan kami memutuskan kembali ke tenda.

Dibalut dengan hawa dingin Gunung Prau, menjadikan tidur bersepuluh di dalam tenda sebagai satu hal yang menyenangkan. Ada banyak hal yang melintas di dalam benak sebelum akhirnya mata terpejam. Otak memutar kembali memori yang baru dilewati. Ketika kami naik ke dalam bus di pagi hari, ketika kami tiba di basecamp, ketika kami memulai langkah pertama. Membayangkan ketika nafas rasanya hampir putus. Ketika pundak tak sanggup menahan beban dan kaki berat melangkah. Tapi di sini, saya bersyukur bisa menemukan kebersamaan yang mungkin memang harus diperjuangkan dengan cara seperti itu.




Hawa dingin pagi hari tak kalah menggigit. Tapi ketika langit di sisi timur mulai membiaskan jingga, kami tahu bahwa tak ada waktu lagi untuk meringkuk mencari kehangatan. Inilah saatnya untuk mendapat hadiah istimewa dari puncak Prau. Matahari terbit paling indah yang pernah dilihat mata. Ditemani oleh kawan-kawan yang luar biasa.






Rasanya beruntung sekali bisa berada di sini. Tapi kami tak bisa berlama-lama. Selesai menikmati hawa dingin, udara segar, matahari terbit dan pemandangan yang indah, rombongan bergegas untuk meninggalkan puncak.


Perjalanan pulang melalui jalur Patak Banteng dengan medan yang luar biasa terjal. Kalau saja harus mendaki dengan jalur ini, sepertinya saya akan menangis. Bahkan si jempol kaki pun mulai lecet-lecet. Untungnya ada yang meminjami saya sandal :D

Setelah turun dari Gunung Prau, kami segera bersih diri, sholat dan makan siang. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata di kawasan Dieng. Candi Arjuna adalah tujuan berikutnya. Walapun sudah kelelahan dan ngantuk, tapi melihat suasana di sana benar-benar membuat kita memilih untuk membuka mata lebar-lebar. Menikmati peninggalan prasejarah yang patut untuk dilestarikan. Dan yang pasti, kami tidak lupa untuk berfoto ceria.


 



Usai dari Candi Arjuna, kami menuju ke Kawah Sikidang. Terus terang saja, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti, aroma belerang dari kawah benar-benar menusuk hingga ke dalam kalbu #lebai. Saya bersama Mba Sary dan Mba Dyas memutuskan untuk tidak ikut bergabung dengan rombongan dan memilih beristirahat sejenak bersama Bang Jono.


Tak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam rombongan kembali ke bus dan bersiap menuju Telaga Warna. Di sini kami tak cuma disuguhi bentangan telaga berwarna biru kehijauan bersemu putih. Tapi ada juga tempat-tempat bersejarah seperti goa peninggalan masa lalu. Beberapa goa yang saya ingat di antaranya adalah goa jaran, goa pengantin dan goa sumur.



Dan perjalanan kami ditutup dengan berbelanja di pusat oleh-oleh khas Dieng. Makanan olahan kentang dan buah carica menjadi satu hal yang paling dicari. Setelah berbelanja oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah, kami pun langsung beranjak ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Tegal. Pulang ke rumah.

Ada banyak hal yang tidak bisa dituliskan dalam deretan kata-kata di sini. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, tapi apa daya tangan yang kadang sulit menguraikan kata-kata dari dalam hati. Tapi perjalanan tersebut telah menjadi satu hal baru bagi saya. Banyak hal yang tidak saya temukan di tempat atau pada kesempatan lain.

Teman-teman baru yang seperti telah menjadi keluarga kedua. Kebersamaan kita adalah rumah kedua. Dan selalu ada rasa rindu untuk bisa kembali berjumpa dan bersenda gurau. Terima kasih untuk satu masa yang indah.