Menyapa Alaminya Curug Pitu Margasari



Pagi itu, jam enam pagi, saya udah siap dengan tas ransel dan jaket merah yang selalu menemani saya pergi kemana-mana. Kalau saya menyiapkan dua benda itu, berarti saya mau pergi. Dan saya memang mau pergi dengan teman-teman. Ke mana? Ke sana.

Jam delapan kurang lima belas, teman-teman satu rombongan. Delapan orang kalau ngga salah, sengaja nyamperin ke rumah. Setelah pamit dengan orang-orang rumah, emak khususnya, kami langsung meluncur ke tempat tujuan.

Tapi ngomong-ngomong, ke mana tujuan kita kali ini? Jeng-jeng-jeng...

CURUG PITU ( 7 / SEVEN #BiarKeren) atau ada juga yang menyebutnya Curug Sanga.

Salah satu curug yang cukup populer di kalangan pemuda Tegal, apalagi bagi mereka yang suka menjelajah alam. Curug tersebut berlokasi di Margasari, nama desanya saya kurang paham. Pokoknya setelah dari pasar margasari, belok ke kiri dan tinggal ikuti jalan.

Oh ya, kalau kita pakai kendaraan bermotor, lebih baik kita parkirkan di salah satu kantor polisi yang berada di dekat Pasar Margasari. Sambil nitip motor sekalian kita minta ijin sama bapak-bapak polisi yang jaga. Paling engga biar mereka tahu kalau kita mau ke curug. Sekedar mengantisipasi hal-hal yang tidak diingikan.

Setelah parkir motor, kita mulai belanja logistik di pasar. Karena para bapak minta dimasakkan sayur asem, para ibu pun langsung cari penjual sayur asem di pasar. Jangan lupa beli cabe plus bawang merah buat bikin sambel. Tempe juga, buat digoreng. Karena mau bikin sambel, itu berarti harus ada cobek. Muter-muter pasar, dan ketemu juga sama ibu-ibu yang jualan gerabah tanah liat. Logistik udah lengkap. Tinggal tambah air mineral dan semua perlengkapan sudah siap. Perjalanan dimulai...

Jreng... Jreng... Jreng...

Rintangan pertama. Sungai besar berarus deras. Harap maklum, sekarang ini lagi musim hujan. Kita mesti hati-hati. Pijakan langkah harus kuat dan mantap. Kalau lengah sedikit, kita bisa kehilangan keseimbangan dan oleng. Tiba di seberang sungai, kami langsung disambut tanah gambut yang bikin kaki susah jalan. Bahkan si sandal kadang ngga mau diangkat dari pijakan. Kita harus berusaha meringankan berat tubuh, biar kaki ngga terbenam makin dalam.

Sungai besaaaarrr
Berhasil keluar dari kubangan tanah gambut, kami dihadapkan jalan panjang yang tidak terlalu lebar. Kira-kira cukup buat satu mobil, diapit pepohonan, mayoritas pohon jati yang daunnya lebat, walaupun beberapa ada yang meranggas. Dan cukup takjub juga pas lihat ada banyak kupu-kupu sepanjang perjalanan. Jumlahnya jelas lebih banyak dibandingkan sama kupu-kupu yang pernah saya lihat. Saya ngga mungkin menghitung satu satu dari semua kupu-kupu yang saya lihat. Tapi jumlahnya kisaran ratusan atau bahkan lebih.

Jalanan dikelilingi pohon jati rindang
Dan kita mulai becek-becekan
Kira-kira dua puluh menit jalan kaki, beruntung ada salah satu truk pengangkut material yang lewat di depan mata. Tanpa ba-bi-bu kami langsung minta tumpangan. Perjalanan kami mendapat goncangan yang lumayan karena medan berlumpur, berbatu, becek, plus tergenang air. Kita sampe geleng-geleng kepala, "Untung kita dapat tumpangan. Ngga bisa ngebayangin gimana jadinya kalo kita harus jalan kaki."

Begini rute perjalanan kalo dilihat dari atas truk
Keep balance ya, kawan...
Sepanjang perjalanan di atas truk kita heboh banget. Ya, selain karena berlagak lagi ngetrip sama Bapak Presiden, kita juga mesti pandai menjaga keseimbangan dab menghindari ranting-ranting pohon.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kami mulai disuguhi pemandangan yang luar biasa. Pemandangan bukit hijauh bak sabana di Gunung Merbabu. Bayang-bayang dalam pikiran langsung melejit. Ini pasti bakal jadi perjalanan yang seru dan menyenangkan.

Truk yang kami tumpangi berhenti di tepi sungai kecil. Di situ ada beberapa truk lain yang juga akan mengangkut material pasir dan batu. Kami pun turun dan memulai perjalanan dengan langkah kaki menyusuri sungai. Perjalanan kali ini kami harus rela basah-basahan. Jadi disarankan supaya ngga pakai sepatu ya. Daripada nanti malah repot. Pake sandal jelas satu solusi paling tepat.

Setelah menyeberangi sungai, jalanan yang kami lewati mulai menanjak. Ini dia perkebunan jagung milik petani yang penampakannya seperti sabana Gunung Merbabu. Jadi kami menyebutnya sabana jagung.

(Bukan) Sabana Merbabu, ini Sabana Jagung
Di tengah-tengah Sabana Jagung (ciiiee yang sebenernya pengin ke sabana Merbabu tapi belum kesampean) kami istirahat sejenak. Ya, tarik nafas, buang nafas, minum sama makan makanan ringan dulu. Dan setelah itu kami lanjut jalan lagi. Katanya perjalanan masih lumayan jauh. Tapi dengan view yang oke punya pasti perjalanan jadi lebih menyenangkan.

Let's take a rest. Makan dulu, minum dulu
Tiba di penghujung Sabana Jagung, kami mulai masuk ke bagian hutan yang pepohonannya sangat lebat. Udara terasa sangat segar dengan aroma daun basah. Permukaan tanah yang jarang tersentuh sinar matahari jadi lembab dan sedikit licin. Bebatuan dan pohon dibalut lumut yang menandakan betapa tempat ini masih terjaga kealamiannya. Selain itu kami juga bisa mendengar suara serangga berderik keras seperti suasana hutan subtropis di musim panas.

Perjalanan di tengah hutan
Kami dibuat cukup tajub melihat segerombol monyet bergelantungan di pohon, jaraknya cukup jauh dari tempat kami berdiri, ada di seberang sungai. Ngga nyangka aja kalau ternyata di situ masih ada binatang liar. Yang bikin kaget lagi, pas kami udah sampai di sungai yang sumber airnya berasal dari curug pitu, kami melihat sosok babi hutan. Ini adalah kali pertama buat saya lihat babi hutan di depan mata. Ada rasa campur aduk antara senang, takut dan penasaran. Cuma sebentar kami lihat keberadaan babi hutan itu, sampai akhirnya dia lari masuk ke balik semak.

Perjalanan makin menantang. Sungai berarus deras dengan bebatuan yang licin membuat kami mesti lebih gesit. Berjalan, melompat dari satu batu ke batu yang lain. Atau kalau ngga mau lompat-lompatan ya berarti kita harus rela berjalan di badan sungai.

Basah-basahan menyusuri sungai
Setelah melewati beberapa curug kecil, sekarang ...

Jeng-jeng-jeng...

Kami tiba di depan air terjun besar dengan bongakah batu yang berundak agak vertikal. Bentuknya hampir menyerupai susunan balok. Airnya deras, jernih dan segar. Awalnya saya mengira kalau ini adalah tempat tujuan akhir perjalanan. Ternyata BUKAN. Itu baru salah satu dari tujuh air terjun yang harus kami lewati. Saya sempat bertanya-tanya (cuma dalam hati), "Ini kelihatan kaya jalan buntu. Trus kita mau kemana lagi?"

"Kita naik ke atas. Lewat batu-batu itu," kata salah satu teman yang udah pernah ke curug pitu. Tangannya menunjuk tepat ke arah tebing bebatuan di tepi air terjun.

It was so amazed me!

Oke. Di sini kita punya pilihan. Mau berhenti di sini dan pulang atau lanjutin perjalanan sampe ke tempat tujuan. Rasanya kaya punya pilihan tapi ngga ada pilihan. Yakin ngga yakin, kami cuma punya pilihan buat yakin. Bismillah. Kami mulai menapaki satu-satu bebatuan vertikal itu. Bikin deg-deg-ser. Pake sandal lumayan bikin susah. Jadi langsung kami lempar sandal ke atas. Beberapa ada yang lempar sandal ke atas malah jatuh ke bawah. Itu dia keseruannya. Banyak hal sepele yang bikin kami ketawa sepanjang perjalanan.

Serius nih ?! Naik ke situ?
Sedikit ngga percaya juga ketika akhirnya kami bisa sampai di atas. Setelahnya masih ada beberapa air terjun yang mesti dilewati lagi. Tapi ngga setinggi yang barusan. Jadi kami bisa mulai berjalan agak santai. Sambil menikmati pemandangan di sekitar yang luar biasa indah.

What a beautiful place...
Dan ini dia...

Air terjun dari satu titik yang tinggi mengalir deras. Menimpa permukaan air di bawahnya. Menimbulkan percikan dan angin yang terasa segar. Poin akhir dari perjalanan kami.

Awesome
Para bapak mulai pada mainan air. Ibu-ibunya mulai bongkar muatan, nyiapin makan siang. Ini dia satu hal yang paling bikin saya hepi kalo piknik. Acara masak-masa di alam bebas yang banyak angin. Apalagi dengan kondisi kompor yang kalo apinya dikecilin malah mati. Si kompor harus pake bantuan korek api juga. Repot? Iya. Tapi kerepotan kaya gini bikin suasana makin seru.

Ibu-ibu, ayo kita masak
Tempe goreng rasa KFC
Masak nasi (yang ngga mateng-mateng, sampe berkerak di bawahnya) lanjut goreng tempe dan masak sayur asem. Sayangnya, pas lagi mau rebus air buat bikin kopi, gas di kaleng malah habis. Alhasil kami mesti bikin api pake ranting-ranting kering. Dan Alhamdulillah akhirnya bisa minum kopi juga.

Makan siang udah siap. Sayur asem sama tempe goreng, lengkap pake sambel juga. Udara dingin, berangin, basah, bikin perut lapar. Tapi ingat, jangan ketinggalan buat sholat dhuhur dulu ya. Biar acara piknik kita ngga sekedar buat seneng-seneng aja. Jangan lupa buat selalu ingat sama yang menciptakan tempat-tempat indah ini.

Thanks Allah for showing me this beautiful places
Usai sholat, kami mulai santap siang rame-rame. Dalam sekejap, makanan yang alakadarnya habis seketika. Setelah santai-santi sebentar, ambil beberapa foto buat kenang-kenangan, kami pun memutuskan buat pulang. Udah cukup sore, ditambah gerimisi. Tiba-tiba terlintas bayangan medan yang kami lalui pas berangkat tadi. Rada panik juga. Medan menanjak oke oke aja. Tapi turunnya gimana???

Persiapan makan siang
Foto bersama kakak-kakak 
Beneran deh. Ternyata perjalanan turun lebih sulit darpada pas naik. Salah sedikit aja bisa beresiko fatal. Pelan-pelan aja deh. Slow but sure. Sempat kepleset juga, dan basah-basahan lagi, kotor-kotoran lagi. Tapi tetep seru pastinya.

Lewat Sabana Jagung lagi, lewat sungai-sungai lagi. Dan ternyata ngga ada truk yang bisa kami tumpangi. Alhasil kami mesti jadi Ninja Hatori. Melewati jalanan yang medannya luar biasa. Mulai dari yang bebatuan, tanah licin, berlumpur, basah, bahkan BANJIR. Lagi-lagi ketemu kotor dan basah. Tapi dibikin seru aja. Sambil jalan sambil makan manisan cirmai. Kata Mba Mutia, "Dua puluh tahun lagi ngga akan ada jalan ini. Semuanya ditumbuhi pohon cirmai." Itu efek karena kami menebar biji cirmai yang dimakan sepanjang jalan. Hihihi... #just kidding

Lewat Sabana Jagung (lagi)
Ada apa dengan mereka ???
Ini bukan sungai. Sungguh. Ini jalan yang tergenang air
Sulit dibedakan. Mana kaki mana tanah
Dua jam lebih kami berjalan dengan segala rintangan yang ada. Dan akhirnya sampai juga di tepi sungai besar yang pertama kali dilewati. Duduk-duduk sebentar. Cuci tangan, cuci kaki, cuci sandal, cuci kaos kaki #hihihihi trus langsung kembali ke tempat parkir motor. Langit makin mendung, bahkan sepanjang perjalanan pulang kami harus diguyur gerimis (belum masuk kategori hujan) yang deras. Menuju rumah.

Rupanya piknik memang ngga harus jauh-jauh. Apalagi cuaca sekarang yang ngga tentu, bahkan cenderung hujan. Ingat lagi apa tujuan kita piknik. Buat kumpul sama teman, sharing, quality time dan refreshing tentunya. Jadi, selama masih ada tempat yang terjangkau sekedar untuk mendapat semua tujuan piknik, kenapa harus jauh-jauh? Yang penting keep happy keep safety.

Terlalu Banyak Bercanda, Baikkah ???

Hidup kalo mikirin yang serius-serius terus pasti bikin otak mendidih kaya sayur asem dipanasin. Bisa bisa rambut rontok dan jadi (maaf) botak. Orang yang terlalu serius ngejalanin hidup tanpa guyon juga biasanya kelihatan cepet banget tua. Penuaan dini memang seringnya disebabkan faktor pikiran. Bayangin aja kalo hidup mikirnya yang susah-susah terus, ya bakalan susah terus. Padahal bahagia itu salah satu cara biar awet muda loh...

Siapa sih yang ngga seneng kalo punya teman yang suka menghibur dan bikin kita ketawa? Kalo kita terlalu serius sama satu hal, kadang kita sampai lupa kalau sebenarnya dalam hidup kita juga butuh candaan biar otak ngga tegang melulu. Misalnya kita lagi sedih atau lagi mikirin satu masalah, jangankan ketawa, buat senyum aja susah. Tapi tiba-tiba ada salah satu kawan datang dengan membawa segudang candaan buat mencairkan suasana. Kalau di antara kita punya teman yang seperti itu, betapa beruntungnya kita.

Tapi, pernah ngga sih ngerasa dongkol juga sama orang yang kadang kalo bercanda keterlaluan? Bahkan saat kita seharusnya membicarakan sesuatu yang benar-benar serius, tiba-tiba dia melontarkan candaan-candaan yang sebenernya ngga perlu dikeluarin saat itu.

Sesuatu kalau ngga pada tempatnya memang kurang baik. Begitu juga sama yang namanya bercanda. Di satu sisi orang-orang mulai serius ngomongin sesuatu, dan ada aja yang tiba-tiba melontarkan candaan. Mungkin maksud si dia baik, ingin menghibur supaya ngga spaneng. Tapi kalau situasinya tidak pas, justru bisa bikin orang-orang dongkol.

Orang yang terlalu sering menganggap segala hal sebagai candaan kadang susah diajak ngomong serius. Lalu kira-kira gimana cara buat menyikapi sosok yang seperti itu? Apa kita harus biarin gitu aja? Atau kita justru harus menegurnya? Tapi kalau ditegur, kita jadi ngga enak sendiri. Soalnya kita juga tahu kalau maksud dari candaannya itu memang untuk menghibur. Jadi serba salah kan?

Kalau ditegur, takutnya dia malah tersinggung dan ngga mau bercanda lagi. Kita bakal kehilangan satu sosok komedian dalam hidup kita. Ya, walaupun bisa aja dia malah menganggap teguran kita 'juga' sebagai candaan belaka. Trus enaknya gimana ya?

Ada satu cara nih yang biasanya enak buat negur orang yang suka keterlaluan bercandanya. Tegur aja si dia dengan nada candaan juga. Biasanya kalau orang yang suka bercanda trus diajak ngomong serius, jadi makin ngga karuan. Biasanya begitu, walalupun belum tentu berlaku buat semua orang.

Tapi sebenarnya baik ngga sih kalau kita terlalu banyak bercanda?

Kalau ngga ngerugiin orang lain ya baik-baik aja. Tapi kita juga tahu, kalau sesuatu yang berlebihan juga kurang baik. Makan berlebihan, bisa bikin gemuk. Main berlebihan, bisa bikin males. Belajar berlebihan juga bisa bikin stress. Tuh kan, sesuatu yang berlebihan memang kurang baik. Begitu juga sama yang namanya bercanda.

Kalau kita susah untuk mengurangi porsi candaan, setidaknya cobalah untuk bercanda di waktu dan tempat yang tepat. Ketika kita bisa mengontrolnya, candaan kita bakal jadi sesuatu yang menyenangkan dan disambut baik oleh orang-orang di sekitar kita.

Begitu deh kurang lebihnya. Yang pasti, jangan buat hidup kita terlalu serius sama hal-hal yang berat. Ringankan dengan candaan, dan jadilah manusia yang bahagia karena masih bisa bercanda atau dicandain oleh teman-teman kita.

Hehehehe....



Serba-Serbi Donor Darah yang Perlu Kita Ketahui




Darah, darah, darah...

Sebenarnya apa itu darah? Sesuatu yang keluar saat ada luka? Sesuatu yang berwarna merah? Sesuatu yang menandakan adanya rasa sakit? Atau ada pengertian lagi tentang darah selain yang disebukan di atas?

Pada kegiatan Pelatihan Pembina PMR Madya PMI Kabupaten Tegal Tahun 2015, kebetulan saya mendapat spesialisasi materi tentang DORAS (Donor Darah Sukarela) dan ABS (Ayo Siaga Bencana). Dalam materi Donor Darah yang disampaikan oleh Bapak Toto Novarianto, S.Pd, dijelaskan bahwa darah yang dimaksud di sini adalah darah manusia yang terdiri dari komponen cair berupa plasma dan komponen sel.

Lalu, sebenarnya apa fungsi darah bagi tubuh kita?

Fungsi darah sangat bermacam-macam, dan beberapa di antaanya adalah seperti penjelasan berikut :
  1. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel jaringan
  2. Mengangkut karbondiaoksida dari sel-lsel jaringan tubuh ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh
  3. Mengangkut sari-sari makanan
  4. Mengangkut sisa-sisa metabolisme tubuh untuk kemudian dibuang
  5. Mengangkut air untuk kemudian diedarkan ke seluruh tubuh
  6. Menjaga stabilitas suhu tubuh
Setelah kita tahu tentang "apa itu darah?" dan "apa fungsi darah?" sekarang kita coba kupas satu persatu serba-serbi tentang donor darah yang harus kita ketahui. Kenapa harus kita ketahui? Alasannya tentu saja supaya tidak ada kesalahpahaman. Karena ketika kita berbicara tentang darah, itu artinya kita sedang bicara tentang keselamatan jiwa seseorang :D

Kalau untuk pengertian donor itu sendiri adalah orang yang meyumbangkan darahnya. Sedangkan orang yang menerima transfusi darah disebut dengan resipien. Kemudian dalam kelompok saya salah seorang bertanya, "Apa bedanya donor darah dan pendonor darah?" katanya beliau sudah mencoba mencari di kamus, tapi tidak menemukan jawaban yang bisa membuatnya merasa puas.

Kemudian saya coba jawab. Kalau menurut saya pribadi, yang namanya pendonor darah adalah orang yang mendonorkan darahnya. Sedangkan donor darah merupakan nama kegiatan atau aktivitas pengambilan darah itu sendiri. Oleh Pak Toto Novarianto, S.Pd, beliau menegaskan kembali tentang perbedaan donor darah dan pendonor darah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Nah, ini dia. Ketika seseorang ingin melakukan donor darah, ternyata ada beberapa syarat atau kriteria yang harus dipenuhi.
  1. Lelaki atau wanita dewasa yang sehat jasmani dan rohani
  2. Usia pendonor antara 17 s.d 60 Tahun. Kenapa di bawah 17 tahun tidak dianjurkan melakukan donor darah? Alasannya adalah karena mereka yang usianya di bawah 17 tahun cenderung masih dalam proses pertumbuhan di mana sistem dalam tubuh masih dalam tahap penyempurnaan.
  3. Berat badan minimal 45 kg. Kenapa harus 45 kg? Alasannya adalah karena volume darah manusia sekitar 1/13 dari berat tubuhnya. Sedangkan untuk 1 kantong dapat memuat 350 ml darah. Kalau berat badan pendonor di bawah 45 kg, justru dapat menimbulkan resiko kekurangan darah bagi pendonor.
  4. Suhu tubuh kurang atau sama dengan 37 derajat celcius
  5. Denyut nadi 60 - 100 per menit
  6. Tekanan darah normal (Sistolik : 100-160 mmHg, Diastolik : 60-100 mmHg)
  7. Kadar Hemoglobin lebih dari atau sama dengan 12,5 g/dl
  8. Interval penyumbangan darah minimal 8 minggu dengan penyumbangan maksimal 5 kali setahun

Ada juga beberapa hal yang membuat seseorang tidak boleh menjadi pendonor, yaitu :
  1. Kulit pendonor di tempat pengambilan tidak sehat
  2. Mendapat transfusi darah atau komponennya dalam waktu 12 bulan terakhir
  3. Menstruasi
  4. Hamil dan menyusui
  5. Adanya penyakit atau infeksi
  6. Ketergantungan alkohol atau narkotika
  7. Mempunyai kecenderungan pendarahan
Selain memberikan manfaat bagi orang yang membutuhkan darah, ternyata donor darah juga dapat memberi manfaat bagi pendonornya, yaitu :
  1. Rasa senang dalam batin karena dapat membantu sesama
  2. Secara otomatis kondisi kesehatan akan diperiksa secara rutin, sehingga kita dapat mendeteksi dini kemungkinan atau penyakit yang ada dalam tubuh
  3. Dapat bergabung dengan organisasi PMI/PDDI dan menambah teman/relasi
Pernah ada pertanyaan-pertanyaan dari beberapa orang, "Mengapa harga darah begitu mahal?". Seperti yang kita tahu, untuk dapat memperoleh satu kantong darah, paling tidak kita harus mengeluarkan uang senilai Rp. 250.000. Tapi perlu dicatat, bahwa nilai Rp. 250.000 tersebut bukanlah harga untuk membeli darah. Pada dasarnya, darah tidak boleh diperjualbelikan. 

Lalu kenapa kita harus membayar untuk mendapatkan darah?

Rupanya uang Rp. 250.000 adalah pengganti untuk biaya pemrosesan darah sejak diambil dari pendonor sampai tiba di tangan resipien. Sebelum darah ditransfusikan, ada banyak tahap yang perlu dilakukan, di antaranya adalah screaning penyakit dalam darah, pemisahan komponen-komponen dalam darah, dan penyimpanan darah. 

Kurang lebih itulah beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang donor darah. Sekali lagi, donor darah ada satu kegiatan mulia yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Bangga menjadi pendonor darah, bangga menyelamatkan jiwa sesama.