Rekomendasi Cafe di Jogja




Jogja, kota pelajar, kota budaya, kota gudeg dan masih banyak lagi julukan yang diberikan kepada kota tersebut. Siapa yang menyangka kalau saya akan tinggal di Jogja sekarang. Antara senang dan galau sebenarnya. Kenapa senang? Kenapa galau? Yang pasti saya senang karena pada akhirnya seorang Hana yang anak rumahan bisa berkelana keluar dari kota kelahirannya. Mungkin waktu itu Allah bilang, "Sekarang sudah saatnya kamu keluar. Mencari sesuatu yang berbeda. Biar kamu bisa merasakan bagaimana hidup jauh dari orang tua. Biar kamu merasakan bagaimana harus mengurus semua kebutuhan hidup sendiri. Supaya kamu tahu betapa berartinya orang-orang yang saat ini tinggal jauh darimu. Dan yang pasti ucapan-ucapanmu yang selalu bilang ingin tahu rasanya mudik menjelang lebaran."

Oh Allah, Kau memang Mahabaik. Kau kabulkan kata-kataku yang tanpa kusadari pun menjadi do'a yang kini Kau ijabah. Alhamdulillah.

Itu hanya prolog. Kembali lagi ke judul.

Ternyata Jogja itu bukan cuma kota pelajar, buka cuma kota budaya. Di sini juga ada banyak hal-hal unik yang mestinya jadi julukan lain dari kota Jogja.

Dari sekian tahun (weiiitsss kaya udah puluhan tahun aja) tinggal di Jogja, akhir-akhir ini lagi sering banget jalan-jalan, menghafalkan jalanan Jogja yang (terus terang) sulit untuk dipahami. Seperti hatinya. Ciiiieeee...

Dan dari jalan-jalan tanpa tujuan itu jadi sering nemu tempat-tempat yang asik buat nongkoron (sebut saja cafe). Dari beberapa kafe yang pernah saya kunjungi, ayo coba kita ulas satu-satu. Siapa tahu besok-besok kalian mau main ke Jogja bolehlah cobain datang ke salah satu tempat ini.

1. SILOL Cafe and Eatery

Lokasinya ada di Jl. Suroto, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Sebenarnya kafe ini hadir belum lama, dibandingkan dengan ratusan kafe lain yang ada di Jogja. Tapi tiba-tiba.... BOOOMMMM! Mendadak kafe ini jadi idola semua kalangan, apalagi untuk para pecinta motor antik. Karena ketika kita masuk ke dalam kafe tersebut, kita akan mendapati deretan motor gede yang dipajang rapi dalam ruangan bersekat kaca. Ada juga mobil VW dan motor vespa yang bisa kita coba naiki dan menjadi spot foto. Selain itu, tempat yang luas memungkinkan bagi kita untuk melakukan satu even di cafe tersebut. Kafe tersebut tersusun atas 3 lantai yang dijamin bisa menampung orang-orang satu desa.

2. EKOLOGI

Tidak akan menyesal datang ke tempat ini. Tak cuma dimanjakan oleh aneka minuman yang disediakan, kafe yang ini adalah yang paling saya sukai karena arsitekturnya 'saya banget'. Rasanya sejuk sekali saat masuk ke dalam kafe ini. Bukan hanya sejuk karena pendingin ruangannya, tapi karena di tiap-tiap meja dan sudut ruangan ada tanaman-tanaman di dalam pot yang bikin moodmu oke.

Atau untuk kalian yang ingin langsuh bersentuhan dengan udara segar, coba untuk menikmati sisi outdoor kafe tersebut. Kalian akan menemukan dinding-dinding yang dihiasi tanaman merambat, rumput hijau, pohon rindang dan gemercik air mancur. Bayangkan betapa sejuknya tempat itu. 

Tapi sedikit saran, untuk teman-teman yang menghidari asap rokok lebih baik pilih tempat yang indoor saja. Karena yang outdoor memang dikhususkan untuk smoking area. 

Oh ya! Kafe ini juga menyediakan workspace yang berada di lantai dua. Kalau kalian ingin mencari suasana yang lebih nyaman untuk mengerjakan tugas kantor atau kuliah, cocok sekali tempat yang satu itu. Apalagi dengan dilengkapi wifi berkecepatan super, mencapai 100 Mbps. Kurang apalagi coba?

3. GYA CAFE

Ini adalah salah satu cafe favorit saya. Kenapa? Karena cafe ini berlokasi dekat dengan sebuah masjid di wilayah Demangan. Tepatnya ada di samping gedung RRI. Jadi tidak perlu khawatir kalau waktu sholat tiba.

Bisa dibilang ini adalah cafe yang paling sering saya kunjungi. Kenapa? Karena selalu ada promo setiap hari. Apabila teman-teman datang di antara jam 11 siang sampai jam 6 sore, akan ada harga khusus untuk beberapa menu. Wifi di tempat ini juga lumayan kencang. Ditambah dengan tempatnya yang terbuka membuat udara lebih segar. Kalau kalian membutuhkan peralatan seperti kabel rol dll, mereka siap membantu. Tahu sendiri kan jaman sekaran colokan listrik itu lebih penting daripada semangkok bakso panas.

4. JEEVA

Kalau menurut saya tempat ini lebih cocok untuk nongkrong-nongkrong cantik. Gimana engga? Settingan tempatnya memang terlihat lebih feminim dibandingkan cafe cafe yang lain. Kopi di tempat ini bisa dibilang yang terbaik yang pernah saya coba. Cocok jadi tempat kumpul bersama teman-teman. Apalagi tersedia juga desert yang rasanya sangat enak. Pilihan menu camilannya juga lengkap.

5. SINERGI.CO

Cafe yang satu ini hadir belum lama. Sekitar bulan Januari 2018. Tempatnya tidak jauh dari Gya Cafe. Terus terang tempat ini memiliki desain tempat dan interior yang paling saya sukai. Perpaduan antara interior kayu dan tanaman di banyak sudut ruangan memberikan kesan segar dan tidak membosankan. Apalagi dengan disediakannya meja bundar yang mengelilingi pohon palm di tengah ruangan.

Selain tempat yang luas dan bernuansa menyejukkan, Sinergi juga menyediakan beberapa ruang-ruang kecil yang bisa digunakan untuk rapat atau berbagai forum. Tersedia fasilitas meja panjang, kursi dan TV LCD yang bisa menunjang kegiatan presentasi. Cocok sekali bagi teman-teman yang ini mengadakan rapat dengan suasana berbeda.


Nahh... Itu dia beberapa cafe yang bisa menjadi rekomendasi bagi teman-teman saat berkunjung ke Jogja. Sebenarnya cafe di Jogja ada sangaaaat banyak. Dan beberapa yang saya review adalah cafe yang memang pernah saya kunjungi. Kalau teman-teman punya rekomendasi cafe lainnya, coba komen di bawah. Nanti setelah saya kunjungi mungkin bisa masuk ke dalam tambahan list postingan ini.

Kampung Edukasi Watu Lumbung

Sumber : http://panduanwisata.id

Bermula dari perjalanan kami ke Grojogan Lepo di daerah Dlingo, Bantul. Di luar ekspektasi, air terjun yang biasanya berair deras dan berwarna biru tosca saat itu sedang surut dan airnya agak keruh. Mungkin karena cuaca memang sedang agak kering walaupun sudah masuk akhir Oktober. Rencana untuk berenang atau sekedar bermain air pun kami urungkan.

Kemudian teman saya teringat satu hal. Ia penasaran sekali dengann  salah satu kuliner khas bernama sego degan. Sego degan itu sendiri artinya adalah nasi degan (kelapa). Jadi nasi tersebut dimasak dengan menggunakan air kelapa, dan ditanak di dalam buah kelapa utuh. Di atasnya diberi tambahan telur. Lalu nasi dikukus atau dapat juga dipanggang sampai matang.

Karena sangat penasaran dengan makanan tersebut, akhirnya teman saya yang satu itu mencoba mencari referensi. Sampai muncullah satu tempat yang disebut Watu Lumbung. Tak mau menunggu lama, akhirnya kami langsung memutuskan untuk pergi ke lokasi.

Melewati jalan Parangtritis, setelah tiba di Jembatan Kretek ambil belokan ke kiri. Sekitar 500 meter kemudian belok kiri lag. Di sini jalan mula menanjak. Dan tanjakannya lumayan curam juga. Kemiringan mungkin lebih dari 90 derajat. Tapi untungnya akses jalan di situ lumayan bagus. Tak banyak jalan berlubang.

Awalnya kami dibuat bingung dengan suasana yang begitu sunyi. Jauh dari pemukiman penduduk. Padahal tempat tersebut berlabel "kampung", tapi mana penduduknya? Mana rumah-rumahnya?

Ketika jalan makin menanjak, mulai nampak deretan gubug-gubug kayu yang nampaknya masih dalam proses pembangunan. Namun suasananya tak jauh beda, masih tetap sepi. Bahkan kami sempat melihat ada deretan bangunan serupa, namun lebih tertutup dengan atap dan pintunya pula. Ternyata itu adalah sebuah home stay, ada tulisannya pada papan kayu.

Karena tak menjumpai satu orang pun, kami sempat ragu, apakah akan melanjutkan perjalanan atau kembali turun. Tapi penasaran juga rasanya. Sudah jauh-jauh datang tapi langsung pulang?

Pada 500 meter berikutnya kami menemui sebuah bangunan yang juga terbuat dari kayu, mirip seperti bangunan-bangunan yang kami jumpai sebelumnya. Hanya saja tempat ini nampak lebih menonjol. 

Dan benar saja. Sesaat kemudian kami berjumpa dengan seorang pria paruh baya yang biasa dipanggil Mbah Boy. Rupanya beliau adalah salah satu atau bisa dibilang tokoh utama dalam terbentuknya Kampung Edukasi Watu Lumbung.

Kami disambut dengan sangat ramah, walaupun beberapa saat sebelum Mbah Boy tiba kami sudah disambut oleh seekor anjing pemburu berwarna hitam yang (kalau tidak salah) bernama Selby. Rupanya Selby memang selalu bersikap seperti itu terhadap orang yang baru dilihatnya. Wajar saja. Namanya juga anjing penjaga.

Bersama Mbah Boy. Fotonya gelap. Waktu itu hari sudah malam. Setelah hujan reda, bersiap pulang

Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang lingkungan, tentang budaya, tentang pendidikan, sampai tentang logistik dan pangan. Mbah Boy menjelaskan, bahwa untuk konsep Kampung Edukasi itu sendiri adalah untuk mendorong timbulnya kreativitas masyarakat, serta untuk dapat mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang pengetahuan yang ada di alam. Misalnya tentang bagaimana kita mendayagunakan apa yang ada di alam, dan tentang bagaimana kita memberikan timbal balik kepada alam.



"Kampung Edukasi Watu Lumbung bukanlah sebuah tempat wisata," begitu tutur Mbah Boy.

Baginya, Kampung Edukasi Watu Lumbung memang tidak diperuntukkan bagi mereka yang ingin berwisata. Tetapi kampung ini bisa menjadi tempat atau wadah bagi semua insan yang datang dengan membawa pengetahuan, kreativitas dan maksud atau tujuan yang mampu memberikan manfaat. 

"Apa yang membawa kalian kemari?" kurang lebih begitu pertanyaan dari Mbah Boy.

"Jadi sebenarnya kami penasaran dengan sego degan." dijawab dengan polosnya.

"Di sini kami tidak menjual sego degan. Sego degan hanya disajikan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang datang dengan satu tujuan mulia."

Ya, nampaknya kami harus sedikit berlapang dada, karena memang sego degan tidak diperjual-belikan di sini. Jadi apabila teman-teman ingin menikmati sego degan, teman-teman bisa datang dengan membawa minimal tiga buku bacaan yang bisa disumbangkan. Kebetulan di Watu Lumbung ini juga terdapat sebuah taman baca yang buku-bukunya pun diperoleh dari para pengunjung. Tapi dengan satu syarat. Buku yang disumbang haruslah buku yang sudah dibaca. Nantinya kita juga akan dimintai untuk membuat resensi buku tersebut. Jadi jangan coba-coba membawa buku bersegel yang sengaja kita beli untuk menukarnya dengan sego degan. 

Tapi jangan khawatir. Kalau teman-teman merasa lapar dan ingin makan sesuatu, teman-teman bisa mendapatkannya di sini. Tapi jangan harap kalau teman-teman bisa memesan makanan kemudian menunggunya disajikan. Segala sesuatu butuh usaha, broh!

Salah satu sudut di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Jadi ketika ada tamu yang ingin makan sesuatu, mereka dibebaskan untuk untuk memasak apa yang mereka inginkan. Di situ sudah tersedia berbagai jenis sayur-sayuran, beraneka bumbu dapur pun tersedia. Peralatan memasak? Jangan ditanya. Semua lengkap. Tapi kita harus siap berhadapan dengan kompor tungku yang selalu butuh perhatian khusus.

Membuat api di dalam tungku agar tetap menyala itu susah. Sama susahnya dengan menyalakan api pertama kali. Ternyata ada teori dan harus pakai perasaan. Tapi berkat arahan dan bantuan Mbah Boy, api pun berhasil menyala dan kami siap memasak.


Sudah disediakan beragam bumbu yang siap dimasak

Bahan makanan dan perlengkapan juga lengkap

Susahnya membuat api di tungku

Jadi menu makan sore hari itu adalah lalap daun singkong, daun ketela dan daun kenikir. Pasangannya adalah sambal bawang. Menu kedua ada telur dadar. Dan menu ketiga ada tempe orek dengan resep khas dari Mbah Boy. Walaupun harus bercucuran keringat dan air mata (efek asap dari tungku) tapi benar-benar menyenangkan sekali ketika kita bisa menikmati hidangan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Ini adalah poin penting yang harus diedukasikan oleh masyarakat. Tentang bagaimana mendayagunakan alam dan lingkungan.

Makanan siap disantap

Kami menikmati makan sore di halaman rumah Mbah Boy. Kata Mbah Boy senja di situ bagus. Tapi sayang karena saat itu cuaca sedang mendung. Jadi sore hari terasa lebih dingin dengan anginnya yang lumayan kencang. Mungkin lain waktu kami harus datang kembali. Saat cuaca cerah pastinya.

Oh ya, walaupun pengerjaan Kampung Edukasi Watu Lumbung ini baru 40%, tapi kita tetap bisa memanfaatkan tempat ini untuk beragam kegiatan. Tempat ini tidak disewakan, tapi apabila teman-teman memiliki satu acara atau project yang bermanfaat, teman-teman bisa langsung menghubungi Mbah Boy. Dijamin kalian akan bisa melakukan banyak aktivitas bermanfaat di tempat ini.

Salah satu perpustakaan yang ada di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Lalu bagaimana dengan cost saat berkunjung, makan dan menggunakan fasilitas di tempat ini?

Tenang. Pengunjung tidak dipatok biaya. Semuanya bersifat sukarela. Asalkan bisa memberi manfaat.

Jadi, apa masih ragu untuk datang ke tempat ini? Percayalah. Semua pengalaman yang akan teman-teman peroleh bisa menjadi satu bekal bagi diri sendiri dan mungkin bagi banyak orang. Hanya apabila kita mampu mengambil setiap hikmah dan pelajaran di dalamnya.

Untuk profile lengkapnya bisa coba klik video di bawah ini


Pesona Gunung Lawu via Candi Cetho


Sudah membaca ulasan tentang perjalanan saya waktu ke Candi Cetho beberapa waktu silam? Kali ini perjalanan saya tidak hanya berhenti di Candi Cetho. Tapi kita akan lanjutkan lebih ke atas lagi. Ke Candi Ketek? Tidak hanya sampai di situ. Kita akan terus ke atas, ke atas dan ke atas sampai ke puncak!!!


Puncak? Apa ini serius? Ya, ini serius. Dan ini benar-benar menjadi perjalan yang luar biasa berkesan. Ingin tahu cerita lengkapnya? Mari kita simak kisah suka duka (meski lebih banyak dukanya ketimbang sukanya).

Ini dimulai ketika salah seorang teman saya, sebut saja dia Si Koboi Lajang, merencanakan perjalanan ke timur. Meskipun rencana awal sempat berpikir untuk pergi Gunung Merbabu, namun meeting point di Magelang sedikit membuat saya keberatan. Karena nyali saya tidak cukup tangguh untuk mengendarai motor sampai ke sana. Jadi tujuah sudah diputuskan. Kita akan ke Lawu via Candi Cetho.



Rupanya tidak hanya Si Koboi Lajang. Ada juga dua teman saya yang lain. Sebut saja Mr. J dan Mr. Sam. Sejujurnya, saat akan memulai perjalanan kondisi fisik saya sedang kurang fit. Tapi tidak mungkin sekali kalau saya membatalkan diri untuk tidak ikut. Jadi dengan sedkit rasa nekad kami berangkat pada hari sabtu pagi (19-08-2017).

Perjalanan dimula dari Jogja jam 06.00, dan kami tiba di basecamp Candi Cetho jam 09.30. Setelah istirahat beberapa saat, kami langsung melakukan registrasi pendakian. Pukul 10.30 kami langsung start dari basecamp lalu berangkat. 

Ini adalah kali pertama bagi saya berjalan tanpa membawa beban di punggung. Tapi beban saya berpindah ke pundak kanan karena membawa tas selempang. But it's ok. Mengingat rute yang lumayan terjal membuat saya sulit membayangkan, apa jadinya kalau saya membawa carrier sendiri.



Perjalanan dari basecamp ke pos 1 memakan waktu sekitar 45 menit dengan trek yang masih agak landai walaupun di beberapa sisi kami menemui tanjakan yang cukup terjal. Di pos 1 kita menemui sebuah gubuk kecil yang bisa menjadi tempat berteduh. Di dalamnya juga terdapat mata air mengalir dalam paralon yang terbuka.


Dari Pos 1 menuju pos 2 kita akan melihat pos bayangan, atau saya lebih suka menyebutnya pos 1 1/2. Lebih banyak jalur landai di sini, jadi bisa sedikit menghemat tenaga. Waktu tempuh dari pos 1 menuju pos 2 sekitar 50 menit. Istirahat hanya sebentar dan kami kembali melanjutkan perjalanan mengingat hari mulai siang. Kami menargetkan untuk bisa tiba di pos 5 sebelum maghrib.



Trek menuju pos 3 semakin menanjak, dan saya semakin kualahan. Padahal tidak berat beban yang saya bawa. Mungkin ini karena kondisi tubuh yang sudah lumayan lama dimanja dengan duduk berlama-lama di kursi, kurang olahraga dan makan yang kurang teratur. Saya menyesal karena tidak mempersiapkan perjalanan kali ini dengan baik. Tapi bisa juga ini terjdi karena kondisi fisik yang memang sedang kurang sehat. Ya, ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.


Di antara perjalanan menuju setiap pos, trek menuju pos 4 adalah yang paling kejam menurut saya. Bagaimana tidak? Di sini jalannya selalu menanjak. Dan hampir tenaga saya habis. Bahkan setiap sepuluh langkah saya meminta istirahat. Nafas saya engap, seperti mau putus. Entahlah, seperti sudah hilang kesadaran dan entah akan bisa melanjutkan atau tidak.


Untungnya kakak-kakak baik hati itu tidak henti membuat gurauan-gurauan yang membuat saya tidak bisa menahan tawa meski dengan kepala yang berdenyut-denyut. Begitu tiba di pos 4 saya meminta untuk istirahat lebih lama. 

Kabut yang lumayan tebal sempat menyelimuti, sampai mengundang titik-titik air yang awalnya saya kira gerimis. Ternyata itu air dari kabut yang terasa sangat segar. Ya, sedkit menyegarkan pikiran.

Perjalanan dari pos 4 menuju pos 5 adalah trek yang menryenangkan dengan pemandangan indah dan udara yang segar. Tidak hanya itu. Sinar matahari sore juga bisa sedikit mengusir rasa dingin yang dirasakan sepanjang perjalanan. Ada satu sabana kesacil dan satu sabana besar. Indah sekali, ditambah dengan cuaca cerah dan angin yang berhembus pelan.





Sampai akhirnya kami pun tiba di pos 5. Sudah ada dua tenda yang berdiri. Masih ada tempat yang cukup luas. Sangat luas bahkan. Di pos 5 ini sabana besar terbentang seperti karpet berbulu yang lembut. Hari mulai gelap, dan setelah tenda berdiri kami mulai bersiap untuk memasak. Sayangnya, kondisi badan yang kurang sehat membuat saya hanya bisa meringkuk di dalam tenda. Angan-angan ingin memasak sayur sop pun musnah. Kini giliran para kakak yang membuatkan makan malam buat saya. Maaf sekali, hehehe...

Sebelum tidur kami sempat membuat api unggun dan berbincang dengan pendaki lain. Rencana untuk melihat bintang hilang sudah karena udara yang sangat dingin. Bahkan di dalam tenda kami dapat mendengar suara angin bergemuruh seperti pesawat hendak lepas landas. Dan malam itu, dingin jadi sahabat yang setia, tak mau pergi. Bahkan menyelip lewat celah-celah mana saja.

Dan ini adalah kali pertama bagi saya bisa tidur dengan sangat pulas. Percayakah kalau saya sampai bermimpi? Itu benar-benar terjadi, walau saya lupa apa yang ada dalam mimpi. Tapi setidaknya saya bisa mengobati rasa kantuk setelah sehari sebelumnya saya sangat kurang tidur.

Jam 6 pagi, setelah meneguk segelas teh panas kami langsung melakukan summit. Lagi-lagi kondisi tubuh saya bermasalah. Mountain sickness, atau para kakak menyebutnya mabok gunung. Perut mual dan nafas engap. Selalu seperti itu. Membuat perjalanan menuju Warung Mbok Yem terasa penuh sensasi. Tapi begitu tiba di sana terbayar sudah rasa lelah. Gorengan, teh panas dan nasi pecel. Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?






Tapi rupanya tantangan tidak berhenti sampai di situ. Karena begitu melihat puncak yang sesungguhnya saya cuma bisa menelan ludah. Benarkah di atas sana? Dalam batin saya ingin menjerit dan berlari pulang ke rumah. Tapi itu hanya ada dalam benak. Dan satu-satunya hal yang harus saya jalani adalah terus berjalan. Meski lagi dan lagi saya harus berhenti untuk istirahat.




Setelah perjalanan yang membuat hati menangis, akhirnya tiba juga di puncak. Tugu di ketinggian 3.265 mdpl menyambut dengan bendera merah-putih berkibar di ujungnya. Siapa yang menyangka kalau saya akan bisa berada di tempat setinggi itu? Melihat ke bawah, ternyata memang tinggi.

Tak lama berada di puncak, lalu kami memutuskan untuk kembali turun. Perjalan turun tak seberat perjalanan saat naik. Tapi tetap saja, lutut selalu jadi sasaran rasa sakit saat turun  gunung. Tapi dengan bantuan sebuah tongkat kayu (ajaib) bisa sedikit mengurangi beban di lutut.

Kembali tiba di pos 5, Si Kowboy Lajang dan Mr. J membongkar tenda dan beres-beres. Sementara saya dan Mr. Sam membuat camilan. Mie goreng, tempe goreng dan sambal kecap. Mantap sekali.

Tepat jam 12.30 kami langsung bergegas turn. Kembali menyusuri trek yang kami lalui ketika berangkat. Tapi perjalanan turun lebih cepat. Nafas saya tidak engap lagi walaupun ada nyeri-nyeri di lutut.

Sayangnya Si Kowboy Lajang sempat cidera lututnya. Tapi berungtung tidak lama kemudian kondisinya sudah membaik. 


Dalam perjalanan turun kami sempat beristirahat di bawah pos 3. Di situ ada mata air yang mengalir deras dan sangat menyegarkan. Bahkan airnya bisa langsung diminum karena sangat jernih. Membuat kopi dan membasuh tangan, mencuci muka. Sangat menyegarkan. Lumayan lama kami beristirahat di sini. Dan setelahnya kami kembali melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai sore.

Tiba di basecamp, kami berencana untuk mengambil foto di gerbang candi cetho. Sayang, waktu itu pintu pagar sudah ditutup. Jadi kami hanya bisa berpose di depan pagar pintu masuk.





Usai maghrib kami langsung pulang, melanjutkan perjalanan menuju Jogja. And that's all.

Kalau ditanya bagaimana kesannya, tentu saja luar biasa. Bagaimana tidak? Setelah setahun lebih tidak pernah beraktivitas fisik macam itu, tiba-tiba langsung dihadapkan dengan medan yang (katanya) landai. Katanya. Padahal.... -_-