Explore Dieng Edisi 1st Anniversary Pendaki Laka-laka

Rasanya rindu melihat bentangan alam yang hijau nan asri. Ruang dalam paru-paru ini ingin menghela udara segar. Karenanya, aku ingin beranjak melangkahkan kaki. Mencari tempat di mana aku bisa mengobati kerinduan yang mengikat hati begitu erat.

Itu dia satu alasan yang membuat saya benar-benar ingin keluar dari ruangan dan melihat birunya langit, atau awan putih. Tidur di atas rumput hijau dan merasakan semilir angin. Saya hampir lupa bagaimana rasanya semua itu setelah sekian lama tertegun di bawah langit-langit kamar.

Kala itu saya mencoba mencari komunitas pecinta alam di sekitar wilayah Tegal. Dan akhirnya saya melihat salah satu grup bernama Pendaki Laka-laka di Facebook. Komunitas pendaki asal Tegal tersebut membuat saya cukup senang karena akhirnya bisa menemukan satu wadah yang mudah-mudahan bisa membantu saya mengobati kerinduan akan alam terbuka. Dan cukup takjub juga ketika akhirnya ada even open trip sebagai perayaan 1st Anniversary komunitas tersebut.

Penampakan Grup Pendaki Laka-laka

Saya langsung mengabari dua teman saya, Mba Dyas dan Mba Sary. Walaupun awalnya sempat merasa kecewa karena kuota sudah penuh, tapi ternyata pada hari terakhir pendaftaran panitia mengabarkan bahwa ada 3 kursi kosong yang masih bisa diisi. Kami bertiga positif ikut. Setelah urusan kontribusi selesai, kami langsung menyiapkan segala hal yang dibutuhkan nantinya.

Cukup lama tubuh tidak diajak bergerak karena lebih sering duduk di kursi. Kami pun memutuskan untuk berolahraga ringan setiap sore. Ternyata kemampuan fisik menurun drastis setelah sekian lama dimanjakan dengan duduk manis. Dan semua latihan tersebut jelas belum cukup untuk bekal pendakian nanti. Tapi karena hari sudah semakin dekat, kami hanya berusaha untuk bisa lebih menyiapkan kebutuhan lain seperti perlengkapan dan logistik.

Dan berkisah tentang tiga sepatu yang kembar, sebenarnya ini tidak disengaja. Kalau sepatu saya sendiri sudah dibeli sekitar dua bulan yang lalu sebelum hari pelaksanaan. Walaupun belum ada rencana untuk mendaki, tapi saya tahu kalau sepatu ini akan dibutuhkan suatu saat nanti. Sedangkan sepatu Mba Dyas sendiri dibeli beberapa hari sebelum pendakian. Dan ternyata sangat kebetulan sepatu yang dibeli sama dengan sepatu saya, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Bagaimana dengan sepatu milik Mba Sary? Sepatu milik Mba Sary jelas sama persis dengan sepatu milik saya. Karena kebetulan nomor sepatu saya agak kekecilan dan lebih pas dipakai Mba Sary, akhirnya Mba Sary membeli sepatu dengan ukuran kaki yang cocok untuk saya. Dan kami bertukar sepatu. Jadi tidak ada unsur kesengajaan sama sekali. Rumor tentang beli 2 dapat 3 hanyalah alasan semata karena kami tidak mungkin menceritakan panjang lebar tentang kebenarannya.

H-1 kami membuat surat izin bersama. Dan agar kegiatan pendakian lebih berkesan, kami bertiga sepakat untuk tidak menggunakan ponsel kecuali untuk dokumentasi. Esoknya kami langsung jalankan modus airplane walaupun sebenarnya kami berangkat dengan bus (bukan dengan pesawat) :D


Tanggal 23 Mei 2015. Berangkat dari basecamp Pendaki Laka-Laka yang beralamat di Jalan Kaligung, tepatnya di belakang BRI Alun-alun Tegal sekitar jam 8 dan tiba di Wonosobo jam 3 sore. Setelah ishoma dan mempersiapkan segala sesuatu sebelum pendakian, tim pun dibagi menjadi beberapa kelompok (tepatnya berapa kelompok, saya agak lupa). Kebetulan Saya, Mba Sary dan Mba Dyas tergabung dalam kelompok 4 bersama Bang Jono, Mas Amin, Bang Abdul Hakim (Dulkim) dan Mas Farid.






Menempuh perjalanan sejak pukul 16.30. Bahkan ketika hari sudah petang kami masih berada di perjalanan. Sangat disayangkan karena kekuatan fisik yang menurun membuat saya harus merepotkan anggota tim yang lain. Terima kasih kepada Mas Amin dan Bang Dulkim yang rela gendongin tas saya. Buat Bang Jono, terima kasih atas semangat dan motivasinya. Dan acungan jempol untuk Mba Sary yang paling strong. Hahaha.


Pukul 21.00 kami mulai mendirikan tenda dan memasak beberapa makanan instan yang pembuatannya ternyata tidak instan. Ini adalah momen-momen paling seru. Bisa dibilang memang menjadi malam keakraban. Kami yang belum mengenal satu sama lain langsung menjadi seperti teman yang tumbuh bersama sejak lama. Ada banyak obrolan seru kala itu. Mulai dari obrolan yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Bahkan terus terang saya tidak rela ketika akhirnya malam semakin larut, udara dingin menyelimuti sekujur tubuh dan kami memutuskan kembali ke tenda.

Dibalut dengan hawa dingin Gunung Prau, menjadikan tidur bersepuluh di dalam tenda sebagai satu hal yang menyenangkan. Ada banyak hal yang melintas di dalam benak sebelum akhirnya mata terpejam. Otak memutar kembali memori yang baru dilewati. Ketika kami naik ke dalam bus di pagi hari, ketika kami tiba di basecamp, ketika kami memulai langkah pertama. Membayangkan ketika nafas rasanya hampir putus. Ketika pundak tak sanggup menahan beban dan kaki berat melangkah. Tapi di sini, saya bersyukur bisa menemukan kebersamaan yang mungkin memang harus diperjuangkan dengan cara seperti itu.




Hawa dingin pagi hari tak kalah menggigit. Tapi ketika langit di sisi timur mulai membiaskan jingga, kami tahu bahwa tak ada waktu lagi untuk meringkuk mencari kehangatan. Inilah saatnya untuk mendapat hadiah istimewa dari puncak Prau. Matahari terbit paling indah yang pernah dilihat mata. Ditemani oleh kawan-kawan yang luar biasa.






Rasanya beruntung sekali bisa berada di sini. Tapi kami tak bisa berlama-lama. Selesai menikmati hawa dingin, udara segar, matahari terbit dan pemandangan yang indah, rombongan bergegas untuk meninggalkan puncak.


Perjalanan pulang melalui jalur Patak Banteng dengan medan yang luar biasa terjal. Kalau saja harus mendaki dengan jalur ini, sepertinya saya akan menangis. Bahkan si jempol kaki pun mulai lecet-lecet. Untungnya ada yang meminjami saya sandal :D

Setelah turun dari Gunung Prau, kami segera bersih diri, sholat dan makan siang. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata di kawasan Dieng. Candi Arjuna adalah tujuan berikutnya. Walapun sudah kelelahan dan ngantuk, tapi melihat suasana di sana benar-benar membuat kita memilih untuk membuka mata lebar-lebar. Menikmati peninggalan prasejarah yang patut untuk dilestarikan. Dan yang pasti, kami tidak lupa untuk berfoto ceria.


 



Usai dari Candi Arjuna, kami menuju ke Kawah Sikidang. Terus terang saja, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Yang pasti, aroma belerang dari kawah benar-benar menusuk hingga ke dalam kalbu #lebai. Saya bersama Mba Sary dan Mba Dyas memutuskan untuk tidak ikut bergabung dengan rombongan dan memilih beristirahat sejenak bersama Bang Jono.


Tak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam rombongan kembali ke bus dan bersiap menuju Telaga Warna. Di sini kami tak cuma disuguhi bentangan telaga berwarna biru kehijauan bersemu putih. Tapi ada juga tempat-tempat bersejarah seperti goa peninggalan masa lalu. Beberapa goa yang saya ingat di antaranya adalah goa jaran, goa pengantin dan goa sumur.



Dan perjalanan kami ditutup dengan berbelanja di pusat oleh-oleh khas Dieng. Makanan olahan kentang dan buah carica menjadi satu hal yang paling dicari. Setelah berbelanja oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di rumah, kami pun langsung beranjak ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Tegal. Pulang ke rumah.

Ada banyak hal yang tidak bisa dituliskan dalam deretan kata-kata di sini. Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, tapi apa daya tangan yang kadang sulit menguraikan kata-kata dari dalam hati. Tapi perjalanan tersebut telah menjadi satu hal baru bagi saya. Banyak hal yang tidak saya temukan di tempat atau pada kesempatan lain.

Teman-teman baru yang seperti telah menjadi keluarga kedua. Kebersamaan kita adalah rumah kedua. Dan selalu ada rasa rindu untuk bisa kembali berjumpa dan bersenda gurau. Terima kasih untuk satu masa yang indah.

[Movie Review] : The Fault In Our Star


Sudah cukup lama saya menonton film ini, tapi baru sempat untuk mereviewnya. So check it out!

Dalam film yang diangkat dari novel berjudul sama, mengisahkan tentang seorang gadis remaja bernama Hazel Grace Lancaster yang mengidap penyakit kanker stadium akhir pada saluran pernafasannya. Hal tersebut mengharuskan Hazel untuk selalu membawa tas berisi tabung oksigen kemanapun ia pergi.

Suatu hari orang tuanya meminta Hazel untuk bergabung dengan kelompok pendukung, semacam forum yang anggotanya adalah para penderita kanker. Di dalam forum tersebut, anggotanya diajak untuk bisa berbagi cerita, pengalaman dan saling memotivasi satu sama lain. 

Di situlah Hazel memiliki teman baru yang bernama Augustus Waters. Dia adalah seorang mantan pemain basket yang kakinya telah diamputasi karena penyakit kanker. Dan sejak pertemuan pertama mereka, Hazel dan Gus menampakkan saling ketertarikan satu sama lain. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, saling berkirim pesan dan bahkan mengunjungi rumah satu sama lain.

Hazel sangat menyukai sebuah novel berjudul An Imperial Affliction (Kemalangan Luar Biasa) yang di dalamnya mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis penderita kanker. Buku tersebut sangat menginspirasi dirinya, dan Hazel pun memiliki keinginan yang besar untuk bisa bertemu dengan Van Houten, sang penulis buku.

Sudah cukup sering Hazel berusaha untuk bisa menghubungi sang penulis, namun e-mailnya tidak pernah mendapatkan respon. Dan berkat bantuan Gus, akhirnya Hazel memiliki kesempatan untuk bisa bertemu dengan Van Houten di Amsterdam.

Pada hari yang sudah ditentukan, Hazel bersama ibunya dan Gus pergi ke Amsterdam. Hal tersebut adalah satu kebahagiaan tak terkira bagi Hazel. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diberikan pada Van Houten. Selain itu, Hazel dan Gus juga mendapat kesempatan untuk menikmati makan malam romantis di sebuah restoran terkenal di Amsterdam. Dalam percakapannya, Gus berkata bahwa jas yang dia kenakan malam itu adalah jas yang sudah disiapkan untuk pemakamannya kelak. Ia tidak menyangka kalau akan memakai pakaian itu pada acara makan malam seperti ini. Pada malam itu juga perasaan Hazel dibuat campur aduk antara senang, terharu dan terselip kesedihan, apalagi ketika Gus dengan jelas mengutarakan rasa cintanya. Hazel sampai kehabisan kata-kata, hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata melihat ada orang yang dengan tulus mencitai dirinya.

Esok harinya, Hazel bersama Gus mencari alamat tempat tinggal Van Houten. Namun begitu tiba di rumahnya, Hazel dan Gus dibuat sangat kecewa. Ternyata, penulis yang selama ini ingin ditemuinya tidaklah seperti sosok yang dibayangkan. Van Houten adalah seorang pemabuk berat. Dia pemarah dan suka berbuat kasar. Bahkan Hazel pun merasa tersakiti hatinya dengan perlakuan Van Houten yang semena-mena terhadap orang yang telah datang jauh-jauh untuk menemuinya. Dengan sangat menyesal, asisten Van Houten meminta maaf kepada Hazel dan Gus. Mereka pun memilih untuk pulang.

Usai perjalanan dari Amsterdam, Hazel dan Gus kembali memulai rutinitas mereka. Duduk bersama, berbagi cerita dan saling mengungkapkan perasaan. Walaupun pada akhirnya kisah bahagia mereka harus terhenti ketika Gus mengatakan bahwa kanker yang dideritanya telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Hati Hazel sangat terpukul mengetahui hal tersebut. Kesedihan melanda hatinya, dan tak ada seorang pun yang dapat menghibur. Tapi di situlah Gus selalu berusaha memberi pengertian kepada Hazel. Baginya, adalah sebuah kebahagiaan telah mampu bertemu dengan sosok perempuan yang begitu istimewa di hatinya.

Gus menyadari bahwa usianya tak lama lagi. Oleh karena itu ia meminta agar Hazel dapat memberikan sambutan di hari pemakamannya kelak. Akhirnya pada suatu malam Hazel berdiri di hadapan Gus dan belajar memberikan sambutan yang tak lama lagi harus dilakukannya di hadapan banyak orang. Saat itu pula secara tak langsung Hazel mengutarakan perasaan cintanya yang terdalam pada Gus. Ia tak mampu menahan air matanya, begitu pula dengan Gus.

Kemudian hari itu benar-benar datang. Gus pergi meninggalkan semua orang yang mencintainya.

Tepat saat pemakaman Gus, tiba-tiba Van Houten datang untuk menemui Hazel. Namun Hazel yang pernah disakiti hatinya pun memilih untuk tak menghiraukan Van Houten. Ternyata kehadiran orang tersebut adalah untuk meminta maaf. Diberikannya sepucuk surat kepada Hazel, namun Hazel justru membuang surat tersebut. Dan begitu mengetahui bahwa surat itu adalah dari Gus, Hazel langsung mencari kembali surat yang telah dibuangnya.

Dan itulah akhir cerita di antara Hazel dan Gus. Memang tak panjang waktu yang mereka lalui, namun keduanya telah memahami bahwa perpisahan seperti ini pasti akan segera terjadi. Dan dengan meyakinkan diri, Hazel percaya bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya.

Dianjurkan Untuk Tidak Memakai Kacamata Saat Melakukan Aktivitas Ini


Punya mata min (-) atau (+) ? Jika memang demikian, kalian pasti harus memakai kacamata untuk membantu penglihatan. Selain untuk membaca, menulis atau berhadapan dengan monitor komputer, penderita gangguan mata yang sudah lumayan berat pun harus memakai kacamata sepanjang hari selama melakukan aktivitas. Tapi tahukan teman-teman kalau ada aktivitas yang tidak menganjurkan kita memakai kacamata? Yuk disimak.
  1. Mandi. Bagaimanapun juga tidak akan ada orang yang mencoba mandi dengan memakai kacamata. Selain karena kacamata tidak terlalu dibutuhkan saat mandi, memakainya pun justru bisa sangat mengganggu. Bayangkan saja ketika sedang mandi dan hendak membasuh muka? Sudah pasti si kacamata akan membuat segalanya jadi berantakan. Belum lagi kalau sedang keramas dan shamponya tak sengaja menetes dari ramput dan masuk ke mata. Kita akan kerepotan saat harus membasuhnya dengan air. Jadi dianjurkan sekali untuk tidak memakai kacamata saat mandi.
  2. Mengemudi sepeda motor saat hujan. Ketika mengendarai sepeda motor, sudah pasti kita diwajibkan untuk mengenakan helm. Selain untuk keselamatan saat berkendara, helm juga bisa menyelamatkan kita dari undang-undang lalu lintas. Sayang kan kalau harus ditilang karena tidak mengenakan helm. Sementara saat hujan kita bisa merasakan bahwa suhu udara di balik helm jelas lebih hangat dibandingkan suhu bagian luar helm. Hal tersebut membuat kacamata kita berembun dan semakin menganggu penglihatan. Jadi jika kita memiliki penglihatan yang kurang baik, hindari berkendara sepeda motor saat hujan lebat.
  3. Makan bakso, soto atau mie. Ketiga makanan yang disebutkan barusan adalah tiga makanan yang menjadi belahan jiwa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Makanan berkuah yang sangat lezat jika disantap saat masih panas. Kalau kita bicara tentang panas, kita akan berbicara dengan uap. Apabila teman-teman biasa mengenakan kacamata saat beraktivitas, sangat dianjurkan untuk melepasnya segera. Kenapa? Karena ketika kita menundukkan kepala menghadap ke arah makanan yang masih panas tersebut, otomatis lensa kacamata akan langsung buram seperti berembun karena uapnya. Coba saja lakukan.
  4. Minum minuman panas. Sama halnya dengan makanan di atas, minuman yang panas pun akan menganggu penglihatan. Coba saja ambil secangkir kopi panas. Sebelum meminumnya, teman-teman pasti akan meniup kopi tersebut. Saat itulah kacamata akan langsung buram dan semakin tak nyaman untuk digunakan. Walaupun efeknya tidak lama, tapi tetap saja menganggu.
  5. Foto. Kalau sekedar selfi menggunakan kamera ponsel tidak jadi masalah. Tapi kalau kamera yang digunakan sudah memakai feature lampu flash, akan lebih baik jika tidak memakai kacamata. Terkadang jika memakai kacamata hasil yang diperoleh justru akan nampak mengecewakan karena pantulan cahaya pada lensa kacamata.
  6. Olahraga. Walaupun tidak ada larangan memakai kacamata saat berolahraga, tapi nyatanya hal tersebut akan terasa menganggu ketika tubuh banyak bergerak. Jika ukuran kacamatanya pas, dipakai untuk berlari atau push up mungkin tidak masalah. Tapi jangan sekali-kali memakai kacamata saat harus melakukan roll depan atau roll belakang. Pengalaman yang pernah terjadi adalah kacamata yang dikenakan patah karena tekanan saat melakukan gerakan. Sedangkan saat berenang kita justru dianjurkan untuk memakai kacamata, tapi kacamata yang harus kita pakai adalah kacamata renang. Ingat! Kacamata renang. Bukan yang lain :D
  7. Menggendong anak kecil. Kalau anak kecil yang digendong masih berusia beberapa bulan tidak jadi masalah. Tapi kalau usianya hampir memasuki satu tahun dan mulai aktif bergerak, waspadahal sedikit. Si anak mulai punya keinginan untuk memegang segala hal disekelilingnya. Dan kacamata yang digunakan pun akan menjadi salah satu sasarannya.
  8. Tidur. Kalau yang satu ini semua orang juga tahu. Tidak mungkin ada orang yang dengan sengaja memakai kacamata saat akan tidur. Yang ada hanyalah orang yang kelupaan. Mungkin sedang membaca sambil berbaring di atas kasur kemudian ketiduran. Hal ini juga sering terjadi pada orang-orang yang memiliki jam kerja tinggi. Saat niatnya hanya istirahat sebentar di tengah pekerjaan yang menumpuk, tapi akhirnya tubuh yang lelah menghendaki untuk tidur. Jadilah tak sempat melepas kacamata.
Bagaimana? Setuju? Atau mungkin ada yang kurang dan perlu ditambahkan dari daftar aktivitas di atas? Tapi yang pasti, kita harus mengutamakan kenyamanan. Jangan sampai si kacamata yang niatnya membantu justru menganggu. Walaupun lensa kontak sudah hadir sebagai alternatif bagi para penderita gangguan penglihatan, tapi kacamata masih tetap menjadi idaman karena penggunaannya lebih mudah tidak membutuhkan cara-cara khusus.